Cari Blog Ini

Kamis, 19 Januari 2012

15 Petunjuk Meneguhkan Iman

1. Akrab dengan Al Qur’an

Al Qur’an merupakan petunjuk utama untuk
mencapai tsabat (keteguhan iman). Al Qur’an
merupakan penghubung yang amat kokoh antara
hamba dengan Rabbnya. Barangsiapa berpegang
teguh dengan Al Qur’an, niscaya Allah akan
memeliharanya, barangsiapa mengikuti Al Qur’an,
niscaya Allah akan menyelamat-kannya dan
barangsiapa menyeru kepada Al Qur’an, niscaya
Allah akan menunjukinya ke jalan yang benar.
Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa
diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur
adalah untuk meneguhkan hati para hambaNya,
sebagaimana firman Allah tatkala membantah
tuduhan kaum kuffar, “Orang-orang kafir
berkata: Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan
kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya
Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya
secara tartil.” (Al Furqan : 32)
Diantara alasan mengapa Al Qur’an sebagai
sumber utama untuk mencapai tsabat, karena Al
Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan
jiwa seseorang, diturunkan untuk menenteramkan
hati manusia dan sebagai benteng bagi
orang mukmin dalam menghadapi hempasan
fitnah. Al Qur’an juga membekali muslim dengan
konsepsi serta nilai yang dijamin kebenarannya,
sehingga dia mampu menilai sesuatu dan
menimbang sesuatu secara proporsial dan benar.

2. Iltizam dengan Syari’at Islam

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kalau
mereka melaksanakan nasehat yang diberikan
kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu
lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan
(hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa : 66)
Jelas sekali, tidak mungkin kita mengharapkan
orang-orang yang malas dan tidak melakukan
amal shalih dapat memiliki keteguhan iman. Allah
hanya akan menunjukkan kepada orang yang
beriman dan mengamalkannya, jalan yang lurus.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam dan para shahabat senantiasa melakukan
amal shalih dan menjaganya secara terusmenerus.
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa
memelihara shalat dua belas raka’at (sunnat
rawatib), niscaya ia dijamin masuk surga.” (At
Tirmidzi 2/273)

3. Mempelajari Kisah Para Nabi

Tentang pentingnya mempelajari kisah para Nabi,
Allah berfirman, “Dan Kami ceritakan kepadamu
cerita para Rasul agar dengannya Kami teguhkan
hatimu.” (Hud : 120)
Mari kita renungkan kisah Nabiyullah Ibrahim
Alaihis Salam tatkala dilemparkan ke dalam api.
Ibnu Abbas berkata: Ucapan terakhir Ibrahim
ketika akan dilemparkan ke dalam api adalah,
“Cukuplah Allah sebagai penolongku, Dia adalah
sebaik-baik pelindung.” (Al Fath : 29)
Seandainya Anda merenungi firman Allah di atas,
tidakkah Anda merasakan adanya tsabat yang
meresap ke dalam jiwa Anda? Dalam kisa Musa
Alaihis Salam, Allah berfirman: “Maka setelah
kedua golongan itu saling melihat, berkatalah
para pengikut Musa: Sesungguhnya kita akan
benar-benar tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali
tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku
bersama-ku, kelak Dia akan memberi petunjuk
kepadaku.” (Asy Syu’ara : 61-62) Bila Anda
bayangkan bahwa kisah tersebut terjadi di
hadapan Anda, tidakkah Anda merasakan tsabat
di dalam hati Anda?

4. Berdoa

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman
adalah selalu memohon kepadaNya agar diberi
keteguhan iman, seperti doa yang tertulis dalam
firman Allah: “Ya Rabb kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan
setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali
Imran : 250) Agar hati tetap teguh, maka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak
memanjatkan doa berikut ini, “Wahai Dzat
pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada
agamaMu.” (HR. At Tirmidzi)

5. Berdzikir kepada Allah

Dzikir kepada Allah adalah amalan yang paling
ampuh untuk mencapai tsabat. Karena
pentingnya dzikir ini, Allah memadukan antara
dzikir dengan jihad sebagaimana dalam firman-
Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bila kamu
memerangi pasukan (musuh), maka berteguh
hatilah dan dzikirlah kepada Allah sebanyakbanyaknya.”
(Al Anfal : 45) Dalam ayat tersebut
Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang
baik untuk mencapai tsabat dalam jihad.
Nabiyullah Yusuf Alaihis Salam pun memohon
bantuan untuk mencapai tsabat dengan dzikrullah
saat dirayu oleh seorang perempuan cantik yang
mempunyai kedudukan tinggi. Demikianlah
pengaruh dzikrullah dalam memberikan
keteguhan iman kepada orang-orang beriman.
Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap
terus berada dalam keimanan sehingga meninggal
dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu kita
perlu merawat bahkan senantiasa berusaha
menguatkan keimanan kita. Makalah ini Insya
Allah membantu kita dalam usaha mulia itu.

6. Menempuh Jalan Lurus

Allah berfirman: “Dan bahwa (yang Kami
perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka
ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain)
sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya.”
(Al An’am: 153)
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecahbelah
menjadi 73 golongan, semuanya masuk
Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat
(HR. Ahmad, hasan). Dari sini kita mengetahui,
tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti
berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14
abad dari datangnya Islam cukup banyak
membuat terkotak-kotaknya pemahaman
keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat
dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang
mesti kita ikuti dalam praktek keberagamaan kita?
Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits ,
jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan
Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman
agama yang autentik kebenarannya adalah
pemahaman berdasarkan keterangan Rasul
Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para
sahabatnya. (HR. Turmudzi, hasan). Itulah yang
mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran
agama berdasarkan akal manusia yang tingkat
kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan
terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya
dirawat oleh para tabi’in dan para imam shalihin.
Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi
(istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham
Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian
menyebutnya dengan pemahaman para salafus
shalih.
Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah
wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi
berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka
telah yakin akan kebenaran yang diikutinya.
Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus
Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa
bingung dan ragu. Berpindah dari suatu
lingkungan sesat ke lingkungan bid’ah, dari filsafat
ke ilmu kalam, dari mu’tazilah ke ahli tahrif, dari
ahli ta’wil ke murji’ah, dari thariqat yang satu ke
thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah
pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj
(jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap
kuat dalam situasi apapun.

7. Menjalani Tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh
setiap muslim cukup banyak. Paling tidak ada
empat macam. Tarbiyah Imaniyah, yaitu
pendidikan untuk menghidupkan hati agar
memiliki rasa khauf (takut), raja’ (pengharapan)
dan mahabbah (kecintaan) kepada Allah serta
untuk menghilangkan kekeringan hati yang
disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur’an dan
Sunnah. Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan
keilmuan berdasarkan dalil yang benar dan
menghindari taqlid buta yang tercela.
Tarbiyah Wa’iyah, yaitu pendidikan untuk
mempelajari siasat orang-orang jahat, langkah
dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai
peristiwa yang terjadi berdasarkan ilmu dan
pemahaman yang benar. Tarbiyah Mutadarrijah,
yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing
seorang muslim setingkat demi setingkat menuju
kesempurnaannya, dengan program dan
perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang
dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.
Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul
kepada para sahabatnya. Berbagai tarbiyah itu
menjadikan para sahabat memiliki iman baja,
bahkan membentuk mereka menjadi generasi
terbaik sepanjang masa.

8. Meyakini Jalan yang Ditempuh

Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang
bertambah keyakinannya terhadap jalan yang
ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka
ber-tambah pula tsabat (keteguhan iman) nya.
Adapun di antara usaha yang dapat kita lakukan
untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan
hidup yang kita tempuh adalah: Pertama, kita
harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh
itu adalah jalan para nabi, shiddiqien, ulama,
syuhada dan orang-orang shalih. Kedua, kita
harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena
kebenaran yang kita pegang, sebagaimana firman
Allah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan
atas hamba-hambaNya yang Ia pilih.” (QS. 27:
59)
Bagaimana perasaan kita seandainya Allah
menciptakan kita sebagai benda mati, binatang,
orang kafir, penyeru bid’ah, orang fasik, orang
Islam yang tidak mau berdakwah atau da’i yang
sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam
keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus
Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.

9. Berdakwah

Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan
rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu
dicarikan medan yang tepat. Di antara medan
pergerakan yang paling agung adalah berdakwah.
Dan berdakwah merupakan tugas para rasul
untuk membebaskan manusia dari adzab Allah.
Maka tidak benar jika dikatakan, fulan itu tidak
ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak
disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan
akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman
itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang
da’i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul
bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia
tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin
menambah dan mengokohkan keimanannya.

10. Dekat dengan Ulama

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Di antara manusia ada orang-orang yang
menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan.”
(HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan) Senantiasa
bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan
iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa
berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum
muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum
muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti
diutarakan Ali bin Al Madini Rahima-hullah: “Di
hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan
din ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah
(ujian) dengan Imam Ahmad.” Bila mengalami
kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul
Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah untuk mendengarkan berbagai
nasehatnya. Serta-merta kegundahannya pun
hilang berganti dengan kelapangan dan
keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).

11. Meyakini Pertolongan Allah

Mungkin pernah terjadi, seseorang tertimpa musibah
dan meminta pertolongan Allah, tetapi pertolongan
yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang,
bahkan yang dialaminya hanya bencana dan ujian.
Dalam keadaan seperti ini manusia banyak
membutuhkan tsabat agar tidak berputus asa. Allah
berfirman: “Dan berapa banyak nabi yang berperang
yang diikuti oleh sejumlah besar pengikutnya yang
bertaqwa, mereka tidak menjadi lemah karena
bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak
lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan
Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada
do’a mereka selain ucapan, Ya Rabb kami, ampunilah
dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang
berlebihan dalam urusan kami. Tetapkanlah pendirian
kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala
di dunia dan pahala yang baik di akherat. “ (Ali Imran:
146-148)

12. Mengetahui Hakekat Kebatilan

Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya
oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak
dalam negeri .” (Ali Imran: 196) “Dan demikianlah
Kami terang-kan ayat-ayat Al Qur’an (supaya jelas
jalan orang-orang shaleh) dan supaya jelas (pula) jalan
orang-orang yang berbuat jahat (musuh-musuh
Islam).” (Al An’am: 55) “Dan Katakanlah, yang benar
telah datang dan yang batil telah sirna, sesungguhnya
yang batil itu pastilah lenyap.” (Al Isra’: 81) Berbagai
keterangan ayat di atas sungguh menentramkan hati
setiap orang beriman. Mengetahui bahwa kebatilan
akan sirna dan kebenaran akan menang akan
mengukuhkan seseorang untuk tetap teguh berada
dalam keiman-annya.

13. Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat.

Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam: “Tidak ada suatu pemberian yang diberikan
kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas
daripada kesabaran.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah
terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan
ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama
mencapai tsabat.

14. Nasehat Orang Shalih

Nasehat para shalihin sungguh amat penting artinya
bagi keteguhan iman. Karena itu, dalam segala
tindakan yang akan kita lakukan hendaklah kita
sering-sering meminta nasehat mereka. Kita perlu
meminta nasehat orang-orang shalih saat mengalami
berbagai ujian, saat diberi jabatan, saat mendapat
rezki yang banyak dan lain-lain. Bahkan seorang
sekaliber Imam Ahmad pun, beliau masih perlu
mendapat nasehat saat menghadapi ujian berat oleh
intimidasi penguasa yang tiranik. Bagaimana pula
halnya dengan kita?

15. Merenungi Nikmatnya Surga

Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan,
kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan
pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini
adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah
menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya
untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan
imannya.
Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam sering mengingatkan
mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati
Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa
oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: “Bersabarlah
wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti
adalah Surga.” (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)
Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus
meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan
kita khusnul khatimah. Amin.

Diterbitkan oleh: Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) UNSW, http://fly.to/kpii, email: kpii@isnet.org
Dalam rangka membina insan yang bertaqwa
Muhammad Shalih Al Munajjid

Apa Yang Kita Sombongkan?


Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?


Inilah Cinta

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri.
Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?” dia bertanya-tanya,
hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi.
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.
Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka
terletak dipinggir kota yang berseberangan.
Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak.
Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. “Aku buta!” tujasnya dengan pahit. “Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku” Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan
seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.
Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis … Setiap hari dijalaninya dengan
sempurna.
Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :”wah, aku iri padamu”. Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?
Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, “Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu”. Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung”. kata sopir itu.
Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.